Minggu, 10 Maret 2013

SAYUR BAYAM



 SAYUR BAYAM
Oleh : Sulaeman AR/Guru MTsN Singkil

        Menarik sekali akhir-akhir ini kita membaca, melihat dan mendengar di media tentang kemerosotan moral peserta didik di Indonesia, banyak pelajar yang terlibat tawuran, kekerasan, pornografi dan penggunaan narkotika.
        Beredar pendapat dari berbagai kalangan tentang penyebab kemerosotan akhlak pelajar, mulai dari sistem pendidikan yang kurang mengakomodir pembelajaran akhlak dan Agama, kecanggihan teknologi dan informasi yang disalahgunakan, pengawasan orang tua yang lemah terhadap tindak tanduk anaknya, dan yang paling banyak mendapat sorotan adalah “GURU”. Bahkan orang yang paling sering disalahkan dalam setiap prilaku pelajar yang tidak baik.
          Banyak sekali kalangan yang menyalahkan guru dengan berbagai istilah ; guru tidak professional, guru yang kurang berkompeten, guru malas, tidak mampu menjadi guru, guru “bencong” (mengajar tidak sesuai dengan ijazahnya), dan lain-lain. Lebih naif lagi, orang yang sebelumnya pernah menjadi guru, ketika menduduki jabatan di pemerintahan ikut-ikutan menyalahkan guru.
          Padahal pada hakikatnya, menjadi guru adalah merupakan pekerjaan yang paling berat tapi mulia, oleh karena itu guru berada pada urutan pertama, dalam sebuah hadits dikatakan :
كن عالم أو متعلما أو مستمعا أو محبا ولا تكن الخميس فتهلك (الحديث)
“Jadilah kamu seorang Guru, atau Pelajar, atau orang yang mendengarkan Ilmu, atau orang yang cinta terhadap Ilmu, dan janganlah kamu menjadi orang kelima, maka engkau akan celaka”. (al-hadits)
         Seiring dengan program pemerintah menaikkan hajat hidup guru dengan memberikan “dana sertipikasi”, beban yang diemban guru semakin besar, serasa semua hal dipikulkan di pundak guru, terutama  beban pembentukan moral/tingkah laku/akhlak peserta didik yang sebenarnya adalah domainnya orang tua, karena banyak fakta dan pengakuan membuktikan bahwa kesuksesan seorang anak dalam meniti karirnya ketika dewasa adalah karena figur orang tuanya, terumata ibu, bukan oleh gurunya.
              Adalah bila sesuatu yang buruk dilakukan oleh pelajar, nama yang paling cepat muncul adalah nama “guru” dan “sekolah/madrasah” nya, tapi apabila pelajar berprestasi maka nama yang mencuat adalah “Pemerintah daerah” atau instansi terkait lainnya, bukan guru maupun sekolah/madrasah. Hal ini seperti kisah “Sayur Bayam”, yang mengibaratkan guru  seperti “santan kelapa” dan bayam ibarat “pemerintah daerah/Instansi terkait”.
              Bila dicerikatan kisah “santan kelapa” adalah sesuatu yang sangat menyedihkan, karena hampir di setiap perjalannya selalu menerima perlakukan kasar, ia berasal dari kelapa yang dipaksa jatuh dengan cara ditebas oleh tangan kekar seorang laki-laki pemanjat kelapa, kelapa terjatuh dan terhempas ke tanah berguling-guling sampai beberapa meter dari pohonnya, lalu kelapa dikuliti dengan benda tumpul atau dengan bagian belakang golok yang tumpul, ketika sabutnya terlepas semua kelapa lalu dibelah dengan keras, juga masih dengan menggunakan bagian belakang golok yang tumpul, penderitaan kelapa belum berakhir disitu, setelah kelapa dibelah dua, lalu dikukur dengan mesin kukur sehingga isinya berubah menjadi serpihan-serpihan halus berantakan, tak hanya sampai disitu, untuk mendapatkan santan, kelapa mesti ditambah air dan diperas sekuat-kuatnya hingga menghasilkan santan.
             Lain lagi cerita tumbuhan “bayam”, ia melalui hal-hal yang indah dalam perjalanan hidupnya, ia disemai oleh tangan-tangan halus seorang gadis muda di kebun belakang rumah yang subur, setiap pagi disirami, dirawat, dipupuk dan dijaga dari gangguan hama, setelah sampai masanya iapun dipetik dengan halus, dibawa dalam keranjang denga hati-hati,  kemudian dipotong dengan hati-hati pula, lalu dicuci bersih, sehingga siap untuk dimasak dengan santan dalam sebuah kuali. Lalu diakhir keduah kisah perjalanan hidup yang berbeda ini, apakah nama dari masakan tersebut ???  jawabannya tidak lain adalah “Sayur Bayam”, bukan “Sayur Santan”. Semoga menjadi I’tibar,  Wallahu a’lam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar