“SAYUR BAYAM”
Oleh : Sulaeman AR/Guru MTsN Singkil
Menarik
sekali akhir-akhir ini kita membaca, melihat dan mendengar di media tentang
kemerosotan moral peserta didik di Indonesia, banyak pelajar yang terlibat
tawuran, kekerasan, pornografi dan penggunaan narkotika.
Beredar
pendapat dari berbagai kalangan tentang penyebab kemerosotan akhlak pelajar,
mulai dari sistem pendidikan yang kurang mengakomodir pembelajaran akhlak dan
Agama, kecanggihan teknologi dan informasi yang disalahgunakan, pengawasan
orang tua yang lemah terhadap tindak tanduk anaknya, dan yang paling banyak
mendapat sorotan adalah “GURU”. Bahkan orang yang paling sering disalahkan dalam setiap prilaku pelajar yang tidak baik.
Banyak
sekali kalangan yang menyalahkan guru dengan berbagai istilah ; guru tidak
professional, guru yang kurang berkompeten, guru malas, tidak mampu menjadi
guru, guru “bencong” (mengajar tidak sesuai dengan ijazahnya), dan lain-lain.
Lebih naif lagi, orang yang sebelumnya pernah menjadi guru, ketika menduduki
jabatan di pemerintahan ikut-ikutan menyalahkan guru.
Padahal
pada hakikatnya, menjadi guru adalah merupakan pekerjaan yang paling berat tapi
mulia, oleh karena itu guru berada pada urutan pertama, dalam sebuah hadits
dikatakan :
كن عالم أو متعلما أو مستمعا أو محبا ولا
تكن الخميس فتهلك (الحديث)
“Jadilah
kamu seorang Guru, atau Pelajar, atau orang yang mendengarkan Ilmu, atau orang
yang cinta terhadap Ilmu, dan janganlah kamu menjadi orang kelima, maka engkau
akan celaka”.
(al-hadits)
Seiring dengan program
pemerintah menaikkan hajat hidup guru dengan memberikan “dana sertipikasi”,
beban yang diemban guru semakin besar, serasa semua hal dipikulkan di pundak
guru, terutama beban pembentukan
moral/tingkah laku/akhlak peserta didik yang sebenarnya adalah domainnya orang
tua, karena banyak fakta dan pengakuan membuktikan bahwa kesuksesan seorang
anak dalam meniti karirnya ketika dewasa adalah karena figur orang tuanya,
terumata ibu, bukan oleh gurunya.
Adalah bila sesuatu yang buruk
dilakukan oleh pelajar, nama yang paling cepat muncul adalah nama “guru” dan “sekolah/madrasah”
nya, tapi apabila pelajar berprestasi maka nama yang mencuat adalah “Pemerintah
daerah” atau instansi terkait lainnya, bukan guru maupun sekolah/madrasah. Hal
ini seperti kisah “Sayur Bayam”, yang mengibaratkan guru seperti “santan kelapa” dan bayam ibarat “pemerintah
daerah/Instansi terkait”.
Bila dicerikatan kisah “santan
kelapa” adalah sesuatu yang sangat menyedihkan, karena hampir di setiap
perjalannya selalu menerima perlakukan kasar, ia berasal dari kelapa yang
dipaksa jatuh dengan cara ditebas oleh tangan kekar seorang laki-laki pemanjat
kelapa, kelapa terjatuh dan terhempas ke tanah berguling-guling sampai beberapa
meter dari pohonnya, lalu kelapa dikuliti dengan benda tumpul atau dengan
bagian belakang golok yang tumpul, ketika sabutnya terlepas semua kelapa lalu
dibelah dengan keras, juga masih dengan menggunakan bagian belakang golok yang
tumpul, penderitaan kelapa belum berakhir disitu, setelah kelapa dibelah dua,
lalu dikukur dengan mesin kukur sehingga isinya berubah menjadi
serpihan-serpihan halus berantakan, tak hanya sampai disitu, untuk mendapatkan
santan, kelapa mesti ditambah air dan diperas sekuat-kuatnya hingga
menghasilkan santan.
Lain lagi cerita tumbuhan “bayam”,
ia melalui hal-hal yang indah dalam perjalanan hidupnya, ia disemai oleh
tangan-tangan halus seorang gadis muda di kebun belakang rumah yang subur,
setiap pagi disirami, dirawat, dipupuk dan dijaga dari gangguan hama, setelah
sampai masanya iapun dipetik dengan halus, dibawa dalam keranjang denga
hati-hati, kemudian dipotong dengan
hati-hati pula, lalu dicuci bersih, sehingga siap untuk dimasak dengan santan
dalam sebuah kuali. Lalu diakhir keduah kisah perjalanan hidup yang berbeda
ini, apakah nama dari masakan tersebut ???
jawabannya tidak lain adalah “Sayur Bayam”, bukan “Sayur
Santan”. Semoga menjadi I’tibar, Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar