Rabu, 20 Maret 2013

4 TAUSHIYAH (ALMARHUM) SYEIKH H. BAHAUDDIN TAWAR



EMPAT TAUSHIYAH ALMARHUM SYEIKH HAJI BAHAUDDIN TAWAR
Oleh : Sulaeman AR, S.Pd.I

Almarhum Syekh Haji Bahauddin Tawar adalah salah satu Ulama Besar di Aceh Singkil, dilahirkan pada tanggal 5 Februari 1927, di sebuah desa bernama “Seping” yang pada saat itu berada dalam Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Selatan. Nama belakang beliau “Tawar” dinisbahkan kepada Ayah beliau yang bernama Muhamad Tawar, yang dikenal sangat ta’at menjalankan ajaran Agama Islam.
Pendidikan Beliau sebelum memasuki Sekolah Rakyat (sekolah umum pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang) terlebih dahulu menimba pendidikan agama dari Ayahnya (Muhammad Tawar), sehingga pendidikan tersebut menjadi pondasi akidah yang cukup kuat bagi Beliau, karena pendidikan Beliau berlangsung oleh orang yang mencintai dan dicintainya, sehingga menjadi pembinaan yang sangat baik terhadap kepribadian Beliau.
Pendidikan formal pertama Beliau berlangsung sekitar tahun 1939 di sebuah desa bernama “Rimo” (10 KM dari desa Seping), setiap hari melalui transportasi sungai menggunakan sampan. Tahun 1945 setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Beliau melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darussalam Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan pada jenjang pendidikan Tsanawiyah, Aliyah dan Bustanul Muhaqqiqin (setingkat perguruan tinggi) dan belajar langsung kepada Ulama Besar Aceh saat itu al-Mukarram Syeikh haji Muhammad Wali al-Khalidy as-Syafi’ie sampai tahun 1957.
Sejak kecil Beliau terkenal sangat istimewa, masih jarang ditemui seorang anak yang mempunyai minat belajar yang sangat tinggi, serta punya cita-cita besar terhadap pengembangan Ajaran Agama Islam di daerahnya,  hal ini terbukti dengan kembalinya Beliau belajar dari Pesantren Darussalam Labuhan Haji beliau langsung mendirikan sebuah pesantren kecil yang sampai sekarang sudah melahirkan ribuan alumni, pesantren tersebut bernama “ Pesantren Darul Muta’allimin” terletak di Desa Tanah Merah Kec. Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil. Beliau semasa hidupnya sangat terkenal dengan sifat wara’, gigih, sabar dan istiqamah.
Almarhum Syeikh Haji Bahauddin Tawar bukan hanya sosok ulama pendidik, tapi juga seorang ulama yang tidak kenal lelah dalam menjalankan dakwah Islam, Beliau berdakwah keliling daerah tanpa ada undangan dari masyarakat sekalipun, hal ini yang bisa kita sebut dengan istilah “safari dakwah”. Beliau berkeliling untuk memberikan ceramah agama dan dampingi oleh santri-santrinya dengan berbagai usia, sehingga bukan saja tercapai apa yang Beliau kehendaki dengan penyampaian dakwah Islam, lebih dari itu, kemampuan murid-murid Beliau dalam menyampaikan ceramah-ceramah agama juga menjadi motifasi penting bagi anak-anak sekarang untuk memasuki lembaga pendidikan agama seperti pesantren.
            Selain itu Beliau juga seorang ulama ahli ibadah, dengan ibadah-ibadah sunnah tidak kurang dari 300 raka’at setiap malam dan sedikit tidur, Beliau juga seorang ulama yang menghormati para pemimpin (pemerintah) akan tetapi beliau tidak terlalu dekat, hal ini menjadikan Beliau menjadi seorang ulama yang sangat dihormati dan dikagumi, sehingga masyarakat menjadikan Beliau sebagai panutan. Ucapan, ajaran dan amalannya diikuti oleh masyarakat.

            Diantara nasehat-nasehat (taushiyah) Beliau semasa hidupnya, ada empat hal besar yang sampai saat ini masih diingat oleh masyarakat dan oleh murid-muridnya, yaitu :
  1. Taushiyah yang menyangkut totalitas dalam belajar dan mengamalkan agama Islam, Beliau sering mengatakan : “Wahai para Pelalajar ! kamu tidak akan memperoleh kemenangan jika kamu enggan melakukan perjuangan di jalan kemenangan itu” sambil mengutip syair Arab yang berbunyi :
ﺘﺮﺠﻭﺍﺍﻠﻨﺠﺎﺓ ﻭﻠﻢ ﺘﺴﻠﻚ ﻤﺴﺎﻠﻛﻬﺎ ۞ ﺍﻦﺍﻠﺴﻔﻴﻧﺔ ﻻﺘﺟﺭﻯﻋﻠﻰ ﻴﺎﺑﺱ
            Artinya : Jangan engkau harap kemenangan akan datang jika engkau tidak berjuang                        di atas jalannya. Sesungguhnya kapal laut tidak akan bisa berlayar di                                    lautan pasir (gurun tandus).
Hal ini menjelaskan bahwa belajar atau apapun yang kita lakukan dalam hidup, harus dilakukan dengan serius dan total dan sesuai dengan jalannya, kalau tidak,  itu sama artinya seperti kita membawa kapal laut di gurun pasir, hal itu tidak akan menghasilkan apa-apa, karena kapal laut baru bisa digunakan apabila ditempatkan di laut ataupun sungai.
  1. Wahai Kaum Muslimin dan Muslimat ! Hidup ini seperti berlayar di tengah lautan, kita akan diombang-ambingkan oleh ombak lautan jika tidak mempunyai penyeimbangnya. Oleh karenanya, kita sangat membutuhkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman hidup.
  2. Wahai Saudaraku ! Kenapa kita sulit sekali mengingat Dzat yang Maha Esa daripada mengingat sesuatu yang sangat banyak ragam dan bentuknya. Nasehat ini sering beliau ucapkan ketika ibadah “Tawajjuh” dilaksanakan ( Tawajjuh adalah sebuah ibadah mengingat Allah dengan metode ajaran tashawuf Thariqah Naqsyabandiyah) di samping tausyiah ini Beliau juga memberikan tausyiah untuk membangkitkan semangat dzikir (mengingat Allah) dalam kehidupan dengan metode merasakan dan membayangkan betapa kehidupan di Neraka sangat pedih dan tidak ada seorangpun yang mampu bertahan di dalamnya walaupun sesaat.
  3. Untuk memberikan semangat perjuangan kepada para santrinya, Beliau menyuruh murid-muridnya bahkan oleh Beliau sendiri mengumandangkan syair-syair perjuangan Pemuda Islam sebagai berikut :
“Jangan surut di tengah jalan, walaupun penuh dengan rintangan, itu pemuda pemudi sejati, dalam hidupnya selalu berbakti”.
Itulah sekelumit taushiyah yang sering diajarkan oleh seorang Ulama Besar Aceh Singkil yang pernah hidup. Ulama Kharismatik dan Tokoh Pendidik yang dijadikan panutan oleh masyarakat, khususya di masyarakat kabupaten Aceh Singkil dan sekitarnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya.
Wallahu a’lam bis shawab…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar